13 Mei 2009

Mari Beramal

Assalamu'alaikum Wr. Wb

Terima kasih kepada Ibu/Bpk/Sdr/Sdri yang telah beramal dana pembangunan masjid Baituttaqwa Rayung Peniron, semoga amal Ibu/Bpk/Sdr/Sdri diterima Allah SWT.
Diberitahukan bahwa dana masjid di rek A.n Sdr. Sukandar s.d 12-05-2009 Rp 6.291.110,- dan diambil Rp. 6 juta diserahkan oleh Sukandar kepada Shodiqin (ketua panitia) di Peniron pada tgl 22-03-2009.
Saldo Rp 291.110,-

Pembangunan masjid blm selesai karena kekurangan dana. Mari kita beramal dg mengisi rek BRI no. 0122 0104 3058 507 a.n. Sukandar.

Wassalaamu'alaikum Wr. Wb.


Supardi



==>> tulisan di atas saya olah dari sms yang saya terima dari salah satu Panitia..
Saya publikasikan di sini karena siapa tau ada teman2 di sini yang tergerak untuk beramal.. Monggo..

26 April 2009

Kisruh PNPM

PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat) Mandiri Perdesaan di Peniron sudah masuk proses Penentuan usulan desa untuk diusulkan di forum Musyawarah Antar Desa (MAD) ditingkat kecamatan.
Forum penentuan yang disebut Musyawarah Desa Khusus Perempuan (MDKP) dan Musyawarah Desa Penetapan (MDP) yang dilaksanakan pada hari Selasa 21 April 2009 itu disamping menetapkan usulan desa juga menetapkan Tim MAD dan Tim Penulis Usulan. Penetapan usulan desa dipilih dari beberapa usulan dari tingkat Kadus/Kelompok. Disamping usulan fisik, ada juga usulan Simpan Pinjam Perempuan yang bersifat wajib sebesar 25% dari total nilai usulan.

Dari hasil MDKP, terpilih usulan untuk diajukan ke MAD adalah:
1. Pembangunan jalan/rabat beton Curug-Silampeng-Sibango-Batas Desa Pengaringan sepanjang 2200 m
2. Simpan Pinjam
3. Pelatihan keripik singkong.

Proses musyawarah sebenarnya sudah berjalan lancar, adil dan demokratis. Tetapi begitu acara selesai timbul gejolak di Kadus Perkutukan yang dipicu kekecewaan usulan dusun Perkutukan tidak lolos ke MAD. Bahkan dari 8 wakil Perkutukan, hanya 2 yang menyetujui usulannya yaitu rabat beton. Bahkan pada malam itu sebagian warga sudah berkumpul yang konon akan berdemo ke balai desa. Beberapa perwakilan masyarakat akhirnya menemui Kades untuk minta klarifikasi. Beberapa hal yang menjadi keberatan mereka antara lain: kedatangan undangan yang sangat mepet waktunya dan jumlah peserta yang dibatasi.

Demi menjaga situasi agar kondusif maka Pemdes langsung mengambil inisitif mengundang seluruh tokoh masyarakat dan pelaku PNPM dan dikumpulkan hari Kamis 23 April 2009 untuk klarifikasi sekaligus menjelaskan prosedur PNPM yang sebenarnya. Dari penjelasan Kader Penggerak Masyarakat Desa Sdr Muhsinun dan Shermy Astuti ternyata undangan terlambat di lingkungan Kadus setempat karena susah mencari warga yang mau mewakili dalam MDKP. Disamping itu, jumlah undangan dibatasi agar musyawarah berjalan lebih adil dan lancar, yaitu 10 orang utusan tiap Kadus sehingga setiap Kadus punya jumlah hak suara sama.
Pada saat itu juga semua peserta termasukdari Perkutukan sepakat agar hasil MDKP tetap diteruskan. Tetapi sehari sesudah itu ternyata masih ada gejolak dimasyarakat bahkan konon ada politisasi masalah tersebut. Konon warga Perkutukan tetap akan beramai2 ke balai desa meminta penjelasan langsung.

Masalah itu tentu sangat disayangkan. Apalagi sebenarnya hal yang dituntut warga sangat tidak berdasar apalagi karena esensi dari PNPM adalah pemberdayaan masyarakat melalui kompetisi yang fair. Artinya seharusnya warga dapat menerima apapun hasil musyawarah jika memang sudah berjalan sesuai prosedur. Pola pikir yang salah bahwa PNPM bisa dibagikan/digilir itulah yang harus dibuang karena PNPM tidak diberikan tapi dikompetisikan.

Pada masalah ini sebenarnya Pemerintah Desa juga sudah memberi kebijakan dengan memprioritaskan jalan Perkutukan untuk dibangun dengan dana ADD.

Beberapa sumber bahkan mengatakan bahwa sikap warga yang sedikit kaku sebenarnya tidak dapat dikatakan mewakili suara Perkutukan karena hanya beberapa oknum warga yang memanfaatkan situasi agar sedikit panas.

Mudah-mudahan upaya dialog yang terus dibangun akan segera mencairkan suasana. Jika tidak, terpaksa pihak Pemerintahan Desa bersikap tegas terhadap pemain-pemain gelap
--diposkan dengan HP

13 April 2009

Wong Peniron Merambah Facebook

Aktifitas yang padat membuat blog ini kembali terbengkalai. Berbulan-bulan media ini tidak menyajikan info apapun kendati sebenarnya banyak sekali info yang layak tayang. Beruntung masih ada teman-teman yang berkenan masuk dan tilik gubug ini mesti dalam kondisi tanpa penghuni.


Bahkan karena lama nda diupdate, blog ini ternyata turun rating dari PR 3 menjadi PR 1. Eman-eman sebenarnya ketika blog ini sedikit banyak sudah seperti salah satu media komunitas.. Disamping itu, eman-eman juga ketika blog yang sudah ikut berjasa mencarikan kita teman, harus hilang dan kita kehilangan komunikasi itu.


Didorong eman-eman itulah, saya merasa tetap tak tega meninggalkannya. Semampu saya, sedikit-sedikit waktu saya akan saya sisihkan untuk tilik dan nguri-uri media ini.

Disamping itu, akhir-akhir ini saya memang lebih asyik terseret trend bermain-main dijejaring “facebook”. Karena ternyata ada banyak teman dari daerah kita yang sudah mempunyai akun di FB itu, saya bikin juga facebook untuk komunitas ini dengan nama “wong peniron”. Sebagian catatan2 dan berita singkat akan saya tulis di sana.

Bagi yang sudah punya akun di facebook silahkan add saja wong peniron sebagai teman dan bagi yang belum punya akun facebook silahkan segera bikin biar tak ketinggalan jaman. Hehe..
Peniron di facebook silahkan klik disini

Jalan Klatak Ambles Lagi

Derita masyarakat Peniron dan sekitarnya belum habis. Setelah jalan rusak puluhan tahun dan belum lama ini Jembatan Klapasawit ambles, sekarang jalan Klatak/Kudu yang pada tahun 1991 ambles kini terancam putus kembali. Memang tanah di daerah itu selalu bergerak sehingga pada tahun 2007 seluruh warga Klatak direlokasi ke tempat aman. Pengaruh tanah bergerak itulah yang membuat jalan sepanjang 300an meter disekitar Klatak ikut ambles. Disamping labilnya tanah, kondisi itu juga dipengaruhi oleh aktifitas penambangan pasir dibawah Klatak (Kadus Bak) yang hanya berjarak 100an meter.

Saat ini, jalan yang ambles itu sudah mencapai panjang sekitar 10 meter dengan kedalaman 1 meter lebih. Kerusakan ini sudah dilaporkan ke Pemkab dan Dinas terkait, tetapi untuk realisasi perbaikan belum diketahui kapan. Jika tidak diperbaiki, jalan itu terancam kembali longsor dan putus seperti tahun 1990 lalu.

22 Februari 2009

Menjadi Jaka Tingkir di Kali Luk Ulo

Kesaktian Jaka Tingkir, seorang muda dari Pengging yang akhirnya menjadi raja Pajang berjuluk Sultan Hadiwijaya sudah begitu melegenda. Seorang sakti sekaligus ambisius hingga mengantarnya menjadikan Pajang, yang dahulunya hanya kadipaten dibawah kekuasaan kesultanan Demak mampu berbalik dan menjadi kerajaan besar hingga sampai ke daerah Madura.

Cerita kesaktian Jaka Tingkir salah satunya adalah ketika dia mampu menaklukan kawanan buaya putih tatkala menyeberang sungai Bengawan Solo dengan rakitnya. Dengan kesaktiannya, kawanan buaya itu bahkan menjadi abdi dengan mendorong rakitnya menyusuri sungai Bengawan Solo.

Cerita Jaka Tingkir itulah yang saya ingat ketika tadi pagi menyeberang Kali Luk Ulo menggunakan rakit di dukuh Klapasawit, Peniron. Saya sengaja menggunakan rakit karena dengan menyeberang sungai Luk Ulo, waktu tempuh saya ke rumah di Kebumen menjadi lebih cepat. Disamping sedikit lebih dekat, kondisi jalan wetan kali mulai desa Kedungwaru sampai Gemeksekti juga relatif lebih baik dari jalan di kulon kali. Ya, dari dulu kondisinya selalu begitu, daerah kulon kali tak pernah lebih baik dalam hal prasarana umum.


Rakit yang dalam bahasa Peniron disebut "getek", memang menjadi sarana alternatif bagi penduduk Peniron dan sekitarnya untuk memperpendek waktu dan jarak tempuh. Maklum, setelah jembatan Tembono di Kebumen, baru ada jembatan gantung di desa Wonotirto di utara Karangsambung, yang jaraknya sekitar 10 km dari Peniron hampir sama jaraknya dengan jembatan Tembono. Bayangkan jika harus memutar melalui kesalah satu jembatan itu. Karena tak ada alternatif jembatan lain, maka rakit ini menjadi penting. Paling tidak mulai dari Peniron sampai Kebakalan, ada 4 lokasi penyeberangan menggunakan jasa rakit, yaitu di Klapasawit Peniron, 2 di desa Karangreja, dan 1 didesa Kebakalan.

Di Klapasawit Peniron, dahulu jasa penyeberangan selalu dikelola oleh perorangan. Karena sehari dapat menghasilkan minimal 80 ribu, maka usaha jasa penyeberangan dengan rakit ini lumayan menjanjikan bagi pengelola. Sekarang, usaha jasa penyeberangan di Klapasawit Peniron dilakukan bersama-sama oleh masyarakat. Hasil dari jasa rakit itu setelah dipotong untuk operasional dimasukkan untuk kepentingan musholla Baitul Muttaqien. Pengelola juga tidak menentukan tarif untuk jasa ini. Seikhlasnya, bahkan tidak memberipun tak bakalan ditagih.

Nah, bagi Anda yang ingin menikmati petualangan Jaka Tingkir, datanglah ke Peniron dan cobalah berakit-rakit. Berakit-rakitlah dahulu, mbayar belakangan. Tidak hanya orang, motorpun isa ikut naik asal tidak lebih dari 5. Disamping berat, tempatnya juga tidak cukup. Jika ingin sedikit seru, datanglah ketika air sungai sedang tinggi sehabis banjir, dijamin pasti dag dig dug karena kita tidak bekali peralatan keamanan apapun. Datanglah ketika musim hujan. Jika kemarau rakit ini tidak beroperasi karena kali Luk Ulo kering.

20 Februari 2009

Jalan Rusak, Akhirnya Masyarakat Bereaksi Juga

Ada yang agak berbeda ketika lewat jalan rusak di Peniron sekarang. Seperti pada gambar, sebuah poster terpampang dengan tulisan mencolok mirip slogan milik pasangan pilpres dulu.

Yang pasang tidak tahu siapa, tetapi saya yakin hal itu dilakukan oleh kelompok yang sangat peduli dengan kondisi keprihatinan bertahun-tahun. Mereka hanya berusaha mencari perhatian karena selama ini memang kurang diperhatikan. Dan, sah-sah saja masyarakat berekspresi, bahkan bentuk unjuk rasa seperti ini masih terlalu santun jika melihat betapa pemerintah tak pernah berpihak pada masyarakat daerah ini.


Semoga ekspresi awal ini menjadi yang terakhir jika pihak terkait akan merespon gelisahnya masyarakat. Jika tidak, sangat wajar jika masyarakat mengekspresikannya dengan bentuk yang lebih demonstratif lagi.