Tampilkan postingan dengan label UNEK-UNEK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label UNEK-UNEK. Tampilkan semua postingan

13 April 2009

Wong Peniron Merambah Facebook

Aktifitas yang padat membuat blog ini kembali terbengkalai. Berbulan-bulan media ini tidak menyajikan info apapun kendati sebenarnya banyak sekali info yang layak tayang. Beruntung masih ada teman-teman yang berkenan masuk dan tilik gubug ini mesti dalam kondisi tanpa penghuni.


Bahkan karena lama nda diupdate, blog ini ternyata turun rating dari PR 3 menjadi PR 1. Eman-eman sebenarnya ketika blog ini sedikit banyak sudah seperti salah satu media komunitas.. Disamping itu, eman-eman juga ketika blog yang sudah ikut berjasa mencarikan kita teman, harus hilang dan kita kehilangan komunikasi itu.


Didorong eman-eman itulah, saya merasa tetap tak tega meninggalkannya. Semampu saya, sedikit-sedikit waktu saya akan saya sisihkan untuk tilik dan nguri-uri media ini.

Disamping itu, akhir-akhir ini saya memang lebih asyik terseret trend bermain-main dijejaring “facebook”. Karena ternyata ada banyak teman dari daerah kita yang sudah mempunyai akun di FB itu, saya bikin juga facebook untuk komunitas ini dengan nama “wong peniron”. Sebagian catatan2 dan berita singkat akan saya tulis di sana.

Bagi yang sudah punya akun di facebook silahkan add saja wong peniron sebagai teman dan bagi yang belum punya akun facebook silahkan segera bikin biar tak ketinggalan jaman. Hehe..
Peniron di facebook silahkan klik disini

11 Oktober 2008

PLESIRAN LEBARAN

Mumpung masih bulan Syawal, saya masih mengambil topik seputar lebaran. Mumpung juga saya masih punya waktu untuk menulis karena akhir-akhir ini waktu untuk nulis sedikit terbatas.

Lebaran memang penuh kenangan, termasuk mengenang tradisi plesiran. Tradisi plesiran atau wisata saat lebaran yang tidak hanya di Peniron tetapi hampir diseluruh Indonesia (mungkin, karena saya kebetulan belum pernah pergi kemana-mana. hehe).
Karena ”kuper”nya saya, maka saya tak mau menulis tradisi plesiran diluar-luar sana. Saya hanya bisa menulis tradisi plesiran yang sepanjang saya tahu, terutama tradisi plesiran lebaran di Peniron dan sekitarnya.


Plesiran lebaran di Kebumen yang sudah mentradisi adalah pergi ke obyek-obyek wisata. Daerah tujuan wisata terutama adalah pantai seperti Petanahan, Bocor, Puring, Rowo, Karangbolong, Suwuk dan Logending. Masing-masing pantai pun punya hari puncak sendiri-sendiri. Seperti Pantai Petanahan yang mencapai di hari ke 7, atau Pantai Rowo pada hari ke 8.

Peniron dulu punya tradisi plesiran lebaran, yaitu berwisata ke puncak pegunungan, yang orang menyebutnya Gunung Condong dan Gunung Pranji. Sampai sekitar tahun 1990an, lebaran menjadi puncak kunjungan wisata domestik ke gunung Condong, desa Condong Campur kecamatan Sruweng. Gunung Condong sebagai obyek wisata diserbu ribuan pengunjung dari berbagai desa, terutama dari kecamatan Karanggayam, Sruweng dan Pejagoan. Dari puncak gunung Condong pengunjung dapat menikmati pemandangan sampai batas cakrawala. Pengunjung juga dapat menelusuri hutan yang masih alami dan jika sedang beruntung dapat melihat kera-kera liar. Di samping itu, ada panggung hiburan yang biasanya menampilkan live musik dangdut. Di puncak Condong juga ada sebuah makam yang sangat dikeramatkan, tetapi saya tak tahu siapa tokoh yang dimakamkan di situ.

Selepas obyek gunung Condong meredup karena pohon-pohon pinus ditebang oleh Perhutani pada sekitar tahun 1997an, wisata gunung beralih ke gunung Pranji yang ada di desa Pengaringan, kec. Pejagoan. Sama seperti gunung Condong, puncak Pranji menyajikan pemandangan eksotik dari puncaknya. Bahkan disamping hari lebaran, pada setiap malam minggu dan hari minggu puncak Pranji banyak dikunjungi wisatawan, terutama dari Kebumen termasuk anak-anak muda pecinta alam amatiran. Pada tanggal 17 Agustus 2008 kemarin, pecinta alam SMA 1 Kebumen (GASPALA) bahkan membentangkan bendera didinding tebing dengan pemanjatan yang sangat beresiko tinggi.

Secara perlahan sejak 3 tahunan terakhir, plesiran ke gunung mulai kurang di minati. Puncak Pranji tak lagi ramai pengunjung. Tradisi plesiran lebaran tidak ada lagi. Padahal mereka tidak mengalihkan tradisi lebaran ke obyek wisata lain, seperti orang-orang desa Jemur yang mempunyai tradisi plesiran ke pantai misalnya. Orang-orang Peniron lebih memilih berkumpul di rumah. Irit, tetapi tidak sehat.

Begitulah, tradisi plesiran lebaran. Sebagian orang seperti saya punya banyak kenangan ketika dulu setiap hari jalan kaki naik gunung ramai-ramai. Entah tradisi yang menyimpan banyak kenangan itu akan muncul lagi atau tidak, waktu yang akan menjawabnya. Yang menjadi pemikiran, bisakah tradisi plesiran itu hidup lagi? Ataukah mungkin dicari alternatif wisata baru di sekitar kita agar tradisi plesiran tidak hilang? Bagaimanapun, ada manfaat positif jika kita mampu mengangkat potensi lokal. Disamping mengenalkan daerah, juga memberi manfaat ekonomi pada masyarakat. Tentu jika kita mampu mengelolanya dengan baik.

Sekedar pemikiran, perpaduan puncak Pranji dan check dam Pengaringan mungkin layak untuk dikelola menjadi magnet wisata lokal baru. Saya akan coba ulas pada posting berikutnya setelah Anda memberi masukan pada kami.

23 Mei 2008

SINYAL HP SUDAH BISA, SINYAL TV KAPAN YA?

Sebelum tahun 2006, Peniron menjadi daerah blankspot, baik untuk sinyal komunikasi selular maupun media tv. Memang tidak semua daerah mengalami kendala komunikasi itu. Untuk daerah Peniron yang berada sedikit lebih di atas, sinyal hp dan tv bisa mereka nikmati, tetapi untuk daerah lembah atau yang berada di bawah, sinyal hp dan tv merupakan barang langka. Saat itu, untuk dapat menggunakan hp kami harus naik ke tempat yang lebih tinggi atau ke tempat yang lapang untuk mendapatkan sinyal nyasar. Sedangkan untuk mendapatkan sinyal tv, kami harus memasang antena setinggi mungkin dan itupun belum tentu bisa. Bagi yang punya duit, memasang antena parabola jadi pilihan demi untuk dapat menonton tv. Bahkan dulu, demi menonton sepak bola yang bebas acak, terpaksa kami harus numpang nonton sampai desa Watulawang, yang karena berada di daerah yang lebih tinggi, sinyal tv dapat ditangkap dengan sangat baik.

Sebelum tahun 2006, sinyal telepon memang sudah dapat dinikmati dengan layanan telkom fleksi, itupun dengan kami harus memasang antena tinggi-tinggi atau menggunakan jasa wartel.
Sejak 3 tahunan yang lalu, mimpi untuk berkomunikasi dengan sinyal telepon seluler telah menjadi kenyataan. Minimal ada 3 operator layanan selular yang dapat dinikmati dengan baik karena adanya tower BTS dari ketiga operator di timur desa. Seperti bangun dari mimpi panjang, kini hp hampir dipunyai di setiap rumah, bahkan konon di SMPN2 Pejagoan lebih dari tiga perempat siswanya membawa hp ke sekolah.

Seiring maraknya penggunaan hp di Peniron, kini banyak bermunculan tempat penjualan hp, pulsa dan asesoris hp. Kami yang melakukan penelusuran pada minggu lalu, mencatat ada 7 konter seluler baik yang menjual hp dan asesoriesnya maupun hanya melayani pengisian pulsa. Di satu sisi, masuknya layanan dari operator selular memang sangat membantu masyarakat dalam kemudahan berkomunikasi, tetapi penggunaan hp yang begitu marak jika tidak dibarengi dengan pengetahuan yang memadai juga akan menciptakan efek negatif. Disamping munculnya pola hidup konsumtif, efek yang sangat merisaukan adalah rendahnya kontrol orang tua terhadap penggunaan hp oleh anak-anak untuk hal-hal yang menyimpang, misalnya pornografi.

Ketika sinyal hp sekarang sudah masuk desa, yang 4 tahun lalu dianggap tidak mungkin masuk Peniron yang dikelilingi gunung-gunung, lantas kapan sinyal tv akan gampang diakses di Peniron dan desa sekitarnya? Terutama desa-desa yang bukan di daerah tinggi?

Persoalan sinyal tv yang buruk memang menjadi problem di daerah utara Kebumen. Di desa-desa di Kecamatan Pejagoan sebelah utara, Kec. Karanggayam dan kec.Karangsambung, sinyal tv bisa dinikmati dengan mudah bagi mereka yang hidup didataran tinggi. Bagi yang hidup dibawah, untuk menikmati sinyal tv yang baik warga terpaksa harus memasang antena parabola.
Persoalan ini pernah ditangkap menjadi peluang usaha oleh warga Kaligending, salah satu desa di kecamatan Karangsambung di timur Peniron, dengan membuat stasiun relay sederhana dan dipancarkan ke desa-desa sekitar termasuk Peniron. Namun nampaknya besarnya biaya operasional menjadi kendala hingga akhirnya gulung tikar.

Tampaknya, untuk menikmati gambar tv yang baik masyarakat di daerah utara tetap bisa berharap. Tak ada sesuatu di dunia ini yang tidak mungkin, seperti halnya terwujudnya mimpi mendapatkan sinyal telpon seluler seperti sekarang. Semoga...

Ada yang punya pendapat?


Ana sing ngomong : “ngonoh lah, aku wis urip nang kota be..!”
Lurah Yono : “KURANG AJAR RIKA YA!”
Ana sing komentar maning :“salahe urip nang ndesa Lur!” Ha..ha..

09 Mei 2008

MENGGUGAT KETIDAKADILAN

Ketika tadi pagi saya membaca artikel terbaru tentang resahnya warga desa Seling di situs Pemkab Kebumen, alangkah resahnya saya. Keresahan ini saya yakini juga akan dirasakan oleh banyak warga Peniron jika mereka juga membaca tulisan di situsnya Pemda Kebumen itu. Keresahan yang jauh lebih banyak jumlahnya dibanding jumlah warga desa Seling yang resah karena pemukimannya terancam oleh erosi kali Luk Ulo.

Bagi warga Peniron, yang hidup dengan mengandalkan penghidupan dari sepetak sawah, tetapi sudah bertahun-tahun tanah kami yang berpuluh-puluh hektar terkena erosi. Dan karena erosi, sekarang posisi tanah itu menjadi wilayah desa Seling, maka warga Seling mendapatkan dan menggarap tanah yang itu dengan gratis.

Sementara kami setiap tahun selalu dikenai kewajiban pajak bumi oleh negara atas tanah itu. Entah sudah berapa ratus ribu pajak yang kami bayar tanpa kami menggarap tanah itu, dan bahkan entah berapa juta desa kami harus terus nomboki PBB dari tanah yang telah berubah menjadi lahan hidup warga Seling itu.
Semua kami lakukan karena kami selalu berharap, ada masanya kami mendapatkan keadilan dengan mendapatkan apa yang semestinya menjadi hak kami.

Erosi Luk Ulo memang telah membuat hubungan kami dan sebagian warga Seling menjadi sering bersitegang. Tanah telah menjadikan sebagian warga desa yang santun menjadi tamak dan serakah. Tanah gratis telah menjadikan sebagian warga Seling, yang sebenarnya masih saudara menjadi seperti kehilangan hati nurani.
Bahkan karena ketidakberdayaan, kebingungan atau mungkin bahkan kebodohan, sekitar tahun 2001 karena persoalan lain, kemarahan warga Peniron diluapkan dengan merusak lahan-lahan di Seling yang sebenarnya lebih adil menjadi miliknya.

Toh Pemerintah tidak pernah mau tahu, walaupun berkali-kali kami berteriak dan memberi sinyal adanya ketidakadilan.

Yang mengagetkan kami, awal Mei yang lalu diadakan sosialisasi dari Satker Non Vertikal Tertentu Pro Bo Lo, bahwa seluruh tanah yang dianggap sebagai endapan adalah milik dinas Pengairan. Bagaimana jika seluruh tanah kami hilang terkena erosi?

Akankah kami menjadi lebih miskin karena kehilangan ladang pangan kami? Bagaimana jika seluruh Peniron beralih ke seberang sungai? Akankah desa Peniron tinggal sejarah? Dengan itu, bukankah secara normatif kami telah dirampas haknya oleh negara? Lantas apa gunanya dibuat aturan negara jika tidak menciptakan keadilan?

Tetapi insyaAlloh, jika itu aturan negara, kami akan patuhi. Tetapi tuntutan keadilan akan selalu kami perjuangkan. Entah apapun resikonya, kami akan kibarkan perlawanan jikalau kami selalu terdzolimi.

Hari Senin yang lalu, telah diadakan pertemuan antara Kepala Desa Seling dan Peniron di Kantor Satpol PP. Menurut Bapak Triyono Adi Kades Peniron, kades Seling juga satu paham untuk menyelesaikan permasalahan tanah ini dengan kekeluargaan. Opsi yang akan dilakukan adalah : 1. Diadakan pertemuan antara Peniron dan Seling untuk mencari solusi terbaik. 2. Solusi terbaik adalah : a. Membuat sudetan sesuai batas desa asli dan mengembalikan sungai pada posisi semula, atau b. menetapkan batas desa tanpa sudetan sesuai batas asli terdahulu, sehingga dimanapun tanah itu, penggarap yang sah menjadi proiritas.

Lantas, apa hubungan keresahan kami dengan artikel di situs Kebumen? Jawabannya, setiap kami mendengar apapun mengenai tanah kami yang sekarang digarap warga Seling, kami selalu resah. Akankah tanah kami yang sudah berpuluh tahun hilang akhirnya terampas?

Jika warga Seling resah karena rumah mereka terancam erosi, tidakkah mereka juga merasakan resahnya perasaan kami, yang berpuluh-puluh tanahnya mereka nikmati dengan cuma-cuma?

Kami memang selalu mengusahakan agar ada jalan damai untuk menyelesaikan masalah ini dengan desa Seling. Demi hak kami dan warga Peniron, kami berusaha mendapatkan tanah itu kembali dengan cara elegan, tidak dengan cara yang dibenci Tuhan.
Mudah-mudahan warga Seling bisa menerima tawaran kami dengan nurani. Jika jalan damai tak mendapat respon baik dari warga Seling, mudah-mudahan pemerintah bisa memposisikan diri sebagai mediator dan pengadil.

Mudah-mudahan ada tambahan kesabaran dan kekuatan untuk kami memperjuangkan hak warga kami yang terampas. Jikapun akhirnya ikhtiar damai kami gagal, mungkin dengan amat terpaksa kami menyerahkan opsi lain kepada masyarakat.
Mudah-mudahan pihak terkait tidak menutup mata dan nurani terhadap persoalan ini, karena menjadi tanggung jawab negara jika rakyat emosional karena rasa keadilannya terampas dan terkoyak.
Bukankah pepatah mengatakan ”cacingpun akan menggeliat jika terinjak?”

Kepada seluruh masyarakat Peniron, jangan hanya menjadi penonton... Karena Andalah subyek yang sebenar-benarnya.

….Mudah-mudahan besok situs Kebumen akan gantian mengangkat keresahan kami...