13 April 2009

Wong Peniron Merambah Facebook

Aktifitas yang padat membuat blog ini kembali terbengkalai. Berbulan-bulan media ini tidak menyajikan info apapun kendati sebenarnya banyak sekali info yang layak tayang. Beruntung masih ada teman-teman yang berkenan masuk dan tilik gubug ini mesti dalam kondisi tanpa penghuni.


Bahkan karena lama nda diupdate, blog ini ternyata turun rating dari PR 3 menjadi PR 1. Eman-eman sebenarnya ketika blog ini sedikit banyak sudah seperti salah satu media komunitas.. Disamping itu, eman-eman juga ketika blog yang sudah ikut berjasa mencarikan kita teman, harus hilang dan kita kehilangan komunikasi itu.


Didorong eman-eman itulah, saya merasa tetap tak tega meninggalkannya. Semampu saya, sedikit-sedikit waktu saya akan saya sisihkan untuk tilik dan nguri-uri media ini.

Disamping itu, akhir-akhir ini saya memang lebih asyik terseret trend bermain-main dijejaring “facebook”. Karena ternyata ada banyak teman dari daerah kita yang sudah mempunyai akun di FB itu, saya bikin juga facebook untuk komunitas ini dengan nama “wong peniron”. Sebagian catatan2 dan berita singkat akan saya tulis di sana.

Bagi yang sudah punya akun di facebook silahkan add saja wong peniron sebagai teman dan bagi yang belum punya akun facebook silahkan segera bikin biar tak ketinggalan jaman. Hehe..
Peniron di facebook silahkan klik disini

Jalan Klatak Ambles Lagi

Derita masyarakat Peniron dan sekitarnya belum habis. Setelah jalan rusak puluhan tahun dan belum lama ini Jembatan Klapasawit ambles, sekarang jalan Klatak/Kudu yang pada tahun 1991 ambles kini terancam putus kembali. Memang tanah di daerah itu selalu bergerak sehingga pada tahun 2007 seluruh warga Klatak direlokasi ke tempat aman. Pengaruh tanah bergerak itulah yang membuat jalan sepanjang 300an meter disekitar Klatak ikut ambles. Disamping labilnya tanah, kondisi itu juga dipengaruhi oleh aktifitas penambangan pasir dibawah Klatak (Kadus Bak) yang hanya berjarak 100an meter.

Saat ini, jalan yang ambles itu sudah mencapai panjang sekitar 10 meter dengan kedalaman 1 meter lebih. Kerusakan ini sudah dilaporkan ke Pemkab dan Dinas terkait, tetapi untuk realisasi perbaikan belum diketahui kapan. Jika tidak diperbaiki, jalan itu terancam kembali longsor dan putus seperti tahun 1990 lalu.

22 Februari 2009

Menjadi Jaka Tingkir di Kali Luk Ulo

Kesaktian Jaka Tingkir, seorang muda dari Pengging yang akhirnya menjadi raja Pajang berjuluk Sultan Hadiwijaya sudah begitu melegenda. Seorang sakti sekaligus ambisius hingga mengantarnya menjadikan Pajang, yang dahulunya hanya kadipaten dibawah kekuasaan kesultanan Demak mampu berbalik dan menjadi kerajaan besar hingga sampai ke daerah Madura.

Cerita kesaktian Jaka Tingkir salah satunya adalah ketika dia mampu menaklukan kawanan buaya putih tatkala menyeberang sungai Bengawan Solo dengan rakitnya. Dengan kesaktiannya, kawanan buaya itu bahkan menjadi abdi dengan mendorong rakitnya menyusuri sungai Bengawan Solo.

Cerita Jaka Tingkir itulah yang saya ingat ketika tadi pagi menyeberang Kali Luk Ulo menggunakan rakit di dukuh Klapasawit, Peniron. Saya sengaja menggunakan rakit karena dengan menyeberang sungai Luk Ulo, waktu tempuh saya ke rumah di Kebumen menjadi lebih cepat. Disamping sedikit lebih dekat, kondisi jalan wetan kali mulai desa Kedungwaru sampai Gemeksekti juga relatif lebih baik dari jalan di kulon kali. Ya, dari dulu kondisinya selalu begitu, daerah kulon kali tak pernah lebih baik dalam hal prasarana umum.


Rakit yang dalam bahasa Peniron disebut "getek", memang menjadi sarana alternatif bagi penduduk Peniron dan sekitarnya untuk memperpendek waktu dan jarak tempuh. Maklum, setelah jembatan Tembono di Kebumen, baru ada jembatan gantung di desa Wonotirto di utara Karangsambung, yang jaraknya sekitar 10 km dari Peniron hampir sama jaraknya dengan jembatan Tembono. Bayangkan jika harus memutar melalui kesalah satu jembatan itu. Karena tak ada alternatif jembatan lain, maka rakit ini menjadi penting. Paling tidak mulai dari Peniron sampai Kebakalan, ada 4 lokasi penyeberangan menggunakan jasa rakit, yaitu di Klapasawit Peniron, 2 di desa Karangreja, dan 1 didesa Kebakalan.

Di Klapasawit Peniron, dahulu jasa penyeberangan selalu dikelola oleh perorangan. Karena sehari dapat menghasilkan minimal 80 ribu, maka usaha jasa penyeberangan dengan rakit ini lumayan menjanjikan bagi pengelola. Sekarang, usaha jasa penyeberangan di Klapasawit Peniron dilakukan bersama-sama oleh masyarakat. Hasil dari jasa rakit itu setelah dipotong untuk operasional dimasukkan untuk kepentingan musholla Baitul Muttaqien. Pengelola juga tidak menentukan tarif untuk jasa ini. Seikhlasnya, bahkan tidak memberipun tak bakalan ditagih.

Nah, bagi Anda yang ingin menikmati petualangan Jaka Tingkir, datanglah ke Peniron dan cobalah berakit-rakit. Berakit-rakitlah dahulu, mbayar belakangan. Tidak hanya orang, motorpun isa ikut naik asal tidak lebih dari 5. Disamping berat, tempatnya juga tidak cukup. Jika ingin sedikit seru, datanglah ketika air sungai sedang tinggi sehabis banjir, dijamin pasti dag dig dug karena kita tidak bekali peralatan keamanan apapun. Datanglah ketika musim hujan. Jika kemarau rakit ini tidak beroperasi karena kali Luk Ulo kering.

20 Februari 2009

Jalan Rusak, Akhirnya Masyarakat Bereaksi Juga

Ada yang agak berbeda ketika lewat jalan rusak di Peniron sekarang. Seperti pada gambar, sebuah poster terpampang dengan tulisan mencolok mirip slogan milik pasangan pilpres dulu.

Yang pasang tidak tahu siapa, tetapi saya yakin hal itu dilakukan oleh kelompok yang sangat peduli dengan kondisi keprihatinan bertahun-tahun. Mereka hanya berusaha mencari perhatian karena selama ini memang kurang diperhatikan. Dan, sah-sah saja masyarakat berekspresi, bahkan bentuk unjuk rasa seperti ini masih terlalu santun jika melihat betapa pemerintah tak pernah berpihak pada masyarakat daerah ini.


Semoga ekspresi awal ini menjadi yang terakhir jika pihak terkait akan merespon gelisahnya masyarakat. Jika tidak, sangat wajar jika masyarakat mengekspresikannya dengan bentuk yang lebih demonstratif lagi.

19 Februari 2009

Berita Dari Kampung

Beberapa minggu ini, saya memang tidak sempat menulis. Walaupun sering online, saya hanya sebatas membaca dan memberi komentar kalau sempat. Dengan waktu yang sulit dibagi serta banyak pekerjaan, update dan menulis terpaksa saya tunda dulu. Mau bagaimana lagi lha wong memang pekerjaan saya bukan tukang ngeblog kok. hehe. Saya memang sempat update blog, itupun cuma upload gambar golak ama masukin banner gratisan di blog yang sekarang ternyata error. Hehe

Sebenarnya banyak berita dari kampung, tetapi sayangnya kok teman-teman lain nda mau andil untuk jadi kontributor. Sayangnya akhir-akhir ini saya tidak begitu kober. Nda sempat ngalor ngidul yang biasanya minimal setiap mingguan. Idealnya memang, ada teman-teman lain yang mau menjadi kontributor, misalkan tidak menulis, paling tidak memberi informasi berikut gambar pada saya yang kemudian akan saya masukkan ke sini. Padahal dikampung ada Mas Sinun, Mas Memed dkk yang sudah bolak-balik saya undang untuk jadi kontributor. Tapi mereka-mereka sepertinya lebih memilih nyari duit sih, jadi ya gemana lagi. Saya juga maklum karena aktifitas ngeblog seperti ini memang cuma buang-buang energi saja. Doakan saja saya juga besok akan sadar seperti mereka. hahaha

Berita yang akan saya tulispun, sebagian karena saya mendapat gambar foto dari Mas Kasidin, kaur Kesra yang baru. Kebetulan seharian tadi (kemarin), saya ketemu beliau diacara MAD PNPM Mandiri Perdesaan di Aula P & K Kec. Pejagoan. Di acara itu, secara tak terduga saya malah ketiban sial karena dipilih menjadi sekretaris BKAD (Badan Kerjasama Antar Desa) Kec. Pejagoan. Mulanya, saya bahkan dipilih untuk menjadi ketua, beruntung ada teman dari desa Karangpoh yang berbaik hati mengalah menjadi ketuanya. Saya bilang sial karena dari hampir seratus orang yang hadir, tak ada yang berminat menjadi pengurus BKAD termasuk saya. Alasannya, disamping diberi tanggung jawab berat juga tidak ada honornya! hahaha..

AMELIA AHMAD YANI datang ke desa Peniron

Ini berita yang pertama. Amelia A. Yani, putri alm. Jendral (anumerta) A. Yani pahlawan revolusi kemarin selasa, 17 Pebruari 2009 datang ke Peniron. Kedatangan beliau yang menjabat sebagai Ketua Umum Partai Peduli Rakyat Nasional (PPRN) dalam rangka silaturahmi dengan kader dan simpatisan PPRN. Silaturahmi politik itu berlangsung di rumah Kadi Prayitno, Kudu/Bak dan dihadiri oleh sekitar 250 orang. Disamping sambutan politik dan silaturahmi, juga dihibur oleh organ tunggal.

Bagi orang Peniron dan sekitarnya, kunjungan ibu Amelia A. Yani adalah sebuah sejarah, dimana baru kali ini seorang ketua umum Partai (walaupun dari partai baru) mau berkunjung ke wilayah Kebumen utara. Padahal pejabat Kebumen sendiri seperti malas berkunjung ke sini. Memang, tidak harapan ketika melihat kapasitas partai ini, terutama jika realitas politik setelah Pemilu 2009 tidak ada perubahan berarti dari keadaan sekarang. Tetapi jika berpikir positif, kunjungan itu merupakan kehormatan ditengah kondisi daerah ini yang seperti dianak tirikan penguasa bertahun-tahun.

Pokoke nda ngimpi tiba-tiba wong Peniron bisa salaman, makan bareng, bertatap muka bahkan berjoged bareng anak Jendral Ahmad Yani yang dulu hanya kita lihat di film yang wajib diputar menjelang tanggal 1 Oktober itu.

Mudah-mudahan, kedatangan beliau memberi manfaat bagi daerah Peniron dan sekitarnya. Sebenarnya tanpa kedatangan ibu Amelia A. Yani pun, sudah seharusnya ada perubahan pola pikir menjelang Pemilu 2009 dan berikutnya bahwa saatnya wong Peniron tidak menjual diri demi kepentingan sesaat.

16 Februari 2009

Golak

Gambar ini sudah diupload lumayan lama. Karena belum punya waktu, tak ada tulisan yang menyertai kecuali "Ini baru gambare, tulisane nyusul ya.."..

Gambar disamping adalah gambar golak. Bagi orang Kebumen harusnya tahu atau paling tidak pernah mendengarnya. Ya, golak adalah salah satu makanan tradisional khas Kebumen. Di samping golak, Kebumen punya banyak makanan khas seperti soto Tamanwinangun, Sate Ambal, Lanting Karanganyar dan Soto Petanahan. Disamping makanan di atas, ada juga peyek yutuk dan pecel, makanan khas ini dapat kita jumpai terutama jika kita pergi ke Pantai Bocor atau Petanahan.


Kembali ke golak, Peniron merupakan salah satu daerah penghasil golak, makanan khas yang berbahan ubi kayu alias singkong. Bentuk golak dibentuk menyerupai angka 8 seperti tampak pada gambar. Bagi wong ndesa seperti saya, golak cukup nikmat dimakan berteman pecel. Di Peniron banyak penjual golak. Disamping berjualan di desa sendiri terutama di pasar dan di keramaian, sebagian juga memasarkan dengan membuka "outlet" di luar Peniron seperti di pertigaan jembatan Tembana, pertigaan Sokka, Pasar Keputihan, Pasar Tengok dan lain-lain. Di bawah, ada teman penggemar golak yang sudah memberi referensi "outlet2" itu.

Di samping golak Peniron, penjual golak lain dapat dijumpai di dalam kota Kebumen yaitu disebelah utara toko Mantep jalan Suprapto dan di depan MAN 2 Kebumen jalan Pemuda. Penjual golak yang membuka "outlet" itu buka dari sore sampai malam hari.

Ada yang belum pernah makan golak? Sebaiknya Anda mencobanya jika ingin pengalaman kuliner Anda lebih lengkap. Dan golak Peniron akan memberi jaminan rasa yang bikin ketagihan.